
Bu, harimu kini sangat meriah
Rangkaian bunga, kue tart, kartu ucapan, dan kado melimpah ruah
Nyanyian tentangmu di setiap sudut kota mengalun indah
Konser luar biasa untukmu digelar megah
Bu, kulihat matamu dulu selalu berbinar
Mencium aroma udara sewangi mawar
Berharap anakmu kan segera mekar
Menghadapi berbagai cuaca dengan tegar
Bu, dengarlah kebisingan itu!
Semua orang berteriak menggaungkan namamu
Gelar kehormatan tertinggi disematkan dengan haru
Ibu adalah segalanya bagi anakmu
Bu, ingatan itu masih lekat
Setiap ibu mengawali perjuangan dari sejak langit masih berwarna hitam pekat
Menanti Fazar dengan zikir dan munajat
Lalu, sepiring nasi putih dan garam yang kau hidangkan menjadi menu sarapan yang paling lezat
Bu, ketika semua orang di rumah telah terlelap
Tanganmu masih saja bekerja menantang gelap
Rasa lelah dan kantuk yang hinggap
Ibu tepis demi menyongsong hari esok yang gemerlap
Waktu itu dunia tidak tahu
Begitupun aku,
Tidak ada pesta atau sekadar ucapan terima kasih padamu
Hanya rengekan menjengkelkan yang keluar dari mulutku
Pelukan dan ciuman yang kau berikan
Adalah ketulusan yang tidak pernah aku agungkan
Teguran dan hukuman yang kau hadiahkan
Malah melekat bagai pasir dan lautan
Padahal, cintamu begitu murni
Ibarat permata yang tertimbun di samudra tirani
Butuh waktu dan keikhlasan hati
Untuk menyadari bahwa ibulah pejuang sejati
Dengarlah, Bu!
Pesta pora ini untukmu
Seluruh penghuni jagad raya menyiapkan segalanya untuk mengenang jasamu
Tersenyumlah, Bu! Karena kini aku tahu
Betapa beratnya ibu mengurus diriku
Menemani setiap momen dalam fase perkembanganku
Mendoakan dan mendukung untuk menyongsong kesuksesanku
Bahagialah, Bu! Karena perjuanganmu ternyata tidak sia-sia
Anakmu kini telah dewasa
Semua pencapaian yang ada dalam genggaman
Adalah berkat kegetiran yang ibu rasakan
Tapi, Bu, kenapa di tengah kemeriahan ini, aku malah melihat wajahmu yang sendu.
Meski ibu mengatakan hanya terharu
Raut wajah ibu tidak mampu menyembunyikan rindu yang menggebu
Kesedihan menjalar di balik senyummu, tatkala tumpukan kado dan kartu ucapan berada di tanganmu
Air mata mengalir di pipimu, saat lagu-lagu mengalun merdu
Kemana binar-binar kebahagiaan yang kau tebarkan saat mengurusku dulu?
Bu, apa aku keliru?
Berharap hadiah-hadiah ini bisa menebus semua waktu yang ibu korbankan demi masa depanku
Ya, ternyata aku benar-benar keliru
Yang ibu harapkan hanyalah kehadiranku di sisi ibu
Maafkan aku, Bu!
Jika waktu bisa diputar, aku hanya ingin memeluk ibu. Menemani masa-masa tersulit dalam mengakhiri waktu.
Kini, aku hanya bisa mengenang mu.
Membayangkan ibu bisa tersenyum bahagia dalam peristirahatan mu.
Tasikmalaya, 8 Februari 2023
Puisi ini dipersembahkan untuk para kontributor buku Ungkapan Cinta Untuk Ibu

Tinggalkan komentar