Jurnal Pendekar Timur

Berbagi Cerita Lewat Kata


Sajak Ungkapan Cinta Untuk Ibu

Bu, harimu kini sangat meriah
Rangkaian bunga, kue tart, kartu ucapan, dan kado melimpah ruah
Nyanyian tentangmu di setiap sudut kota mengalun indah
Konser luar biasa untukmu digelar megah

Bu, kulihat matamu dulu selalu berbinar
Mencium aroma udara sewangi mawar
Berharap anakmu kan segera mekar
Menghadapi berbagai cuaca dengan tegar

Bu, dengarlah kebisingan itu!
Semua orang berteriak menggaungkan namamu
Gelar kehormatan tertinggi disematkan dengan haru
Ibu adalah segalanya bagi anakmu

Bu, ingatan itu masih lekat
Setiap ibu mengawali perjuangan dari sejak langit masih berwarna hitam pekat
Menanti Fazar dengan zikir dan munajat
Lalu, sepiring nasi putih dan garam yang kau hidangkan menjadi menu sarapan yang paling lezat

Bu, ketika semua orang di rumah telah terlelap
Tanganmu masih saja bekerja menantang gelap
Rasa lelah dan kantuk yang hinggap
Ibu tepis demi menyongsong hari esok yang gemerlap

Waktu itu dunia tidak tahu
Begitupun aku,
Tidak ada pesta atau sekadar ucapan terima kasih padamu
Hanya rengekan menjengkelkan yang keluar dari mulutku

Pelukan dan ciuman yang kau berikan
Adalah ketulusan yang tidak pernah aku agungkan
Teguran dan hukuman yang kau hadiahkan
Malah melekat bagai pasir dan lautan

Padahal, cintamu begitu murni
Ibarat permata yang tertimbun di samudra tirani
Butuh waktu dan keikhlasan hati
Untuk menyadari bahwa ibulah pejuang sejati

Dengarlah, Bu!
Pesta pora ini untukmu
Seluruh penghuni jagad raya menyiapkan segalanya untuk mengenang jasamu

Tersenyumlah, Bu! Karena kini aku tahu
Betapa beratnya ibu mengurus diriku
Menemani setiap momen dalam fase perkembanganku
Mendoakan dan mendukung untuk menyongsong kesuksesanku

Bahagialah, Bu! Karena perjuanganmu ternyata tidak sia-sia
Anakmu kini telah dewasa
Semua pencapaian yang ada dalam genggaman
Adalah berkat kegetiran yang ibu rasakan

Tapi, Bu, kenapa di tengah kemeriahan ini, aku malah melihat wajahmu yang sendu.
Meski ibu mengatakan hanya terharu
Raut wajah ibu tidak mampu menyembunyikan rindu yang menggebu

Kesedihan menjalar di balik senyummu, tatkala tumpukan kado dan kartu ucapan berada di tanganmu
Air mata mengalir di pipimu, saat lagu-lagu mengalun merdu
Kemana binar-binar kebahagiaan yang kau tebarkan saat mengurusku dulu?

Bu, apa aku keliru?
Berharap hadiah-hadiah ini bisa menebus semua waktu yang ibu korbankan demi masa depanku
Ya, ternyata aku benar-benar keliru
Yang ibu harapkan hanyalah kehadiranku di sisi ibu

Maafkan aku, Bu!
Jika waktu bisa diputar, aku hanya ingin memeluk ibu. Menemani masa-masa tersulit dalam mengakhiri waktu.
Kini, aku hanya bisa mengenang mu.
Membayangkan ibu bisa tersenyum bahagia dalam peristirahatan mu.

Tasikmalaya, 8 Februari 2023

Puisi ini dipersembahkan untuk para kontributor buku Ungkapan Cinta Untuk Ibu

Laman: 1 2



Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai