Jurnal Pendekar Timur

Berbagi Cerita Lewat Kata


Kelahiran yang Dinanti

Pagi ini, tiba-tiba bayangan tentang kakek kembali memenuhi pikiran. Ini adalah ingatan paling berkesan dalam tiga bulan sebelum kepulangannya. Saat itu hampir setiap hari kakek memperagakan bagaimana cara menolong persalinan. Beliau juga membacakan satu ayah Al-Qur’an.

“Hanna waladat Maryam wamaryam waladat ‘isa. Ukhruj ayyuhal mauluud, biqudrotil malikil ma’buud.”

Saat itu kakek membayangkan tengah menemaniku menolong persalinan. Ya, orang bilang kakek sudah pikun, tapi aku tidak pernah menganggapnya pikun. Semua yang beliau ceritakan, yang beliau peragakan adalah sebuah harapan akan cucu kesayangannya.

Bertahun-tahun aku tidak merasakan kedekatan dengan kakek. Lalu secara tiba-tiba menjadi cucu yang paling beliau Ingat di saat terakhir dalam hidupnya. Aku bahagia, sangat bahagia. Beribu syukur aku panjatkan atas semua keistimewaan yang Allah beri.

Bayangkan saja, ketika memori beliau satu-persatu memudar. Ketika tidak ada satu pun dari keluarga yang beliau ingat namanya. Ketika amarah dan kekesalan beliau lampiaskan setiap bertemu orang. Namun, saat aku dan kakak yang menemaninya, beliau bercerita banyak hal. Beliau mengungkapkan semua angan dan cita-citanya padaku.

“Tah, engke teh Nurma praktik di dieu. Mun Aya nu lahiran ke dibantuan ku Apa. Apalkeun doana, nya. Insya Allah lancar.”

Hari ini, semuanya terjawab. Aku tuntas menolong pasien pertama di PMB-ku dan aku sangat bahagia. Ini adalah doa yang selalu kakek ucapkan selama tiga bulan bersama sebelum kepulangannya.

Menjadi orang pertama yang menyambut bayi laki-laki mungil merupakan nikmat yang sangat sempurna. Ini memang bukan pertama kalinya aku menolong persalinan. Jauh sebelum aku memutuskan off dari profesi selama kurang lebih 4 tahun aku sudah sering melakukan ini.

Namun kali ini berbeda. Karena ini adalah pasien pertamaku di PMB. Dia mempercayakan kelahirannya padahal PMB yang aku bangun bersama Novi, rekan sejawatku, ini baru satu bulan buka. Dia merelakan bayinya aku sentuh, padahal dia tahu aku sudah lama tidak menolong persalinan.

Dan ajaibnya lagi, aku diberi ketenangan dalam menghadapi ini. Aku diingatkan pada doa yang sempat kakek ajarkan saat itu. Aku diberi kesadaran untuk mengontrol diri dan emosiku agar bisa melaksanakan semua nasehat kakek saat menemani ibu bersalin.

Meski dalam prosesnya, kami dihadapkan pada beberapa masalah yang sempat membuat hati ciut, tapi Allah memberi kekuatan dan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tepat pukul 11.04 malam sang bayi lahir disertai tangisan cintanya. Bayi sehat itu seakan tersenyum saat tubuhnya aku sentuh.

“Hai, Baby Boy! Selamat datang di dunia yang fana ini!”

Perasaan bahagia, haru, dan merasa istimewa bercampur menjadi satu. Inilah kelahiran yang paling aku nantikan. Pertanda bahwa semua angan-angan kakek saat itu telah terlaksana.

Aku mulai membacakan Al-fatihah untuk kukirim padanya. Semoga beliau selalu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin.

Tasikmalaya, 17 Februari 2023



Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai